Mancing di Laut Jawa Nelayan Ini Dapat Rp720 Miliar

Agus Riyadi

25 Januari 2026

3
Min Read

Ekonesia – Siapa sangka, perjalanan seorang nelayan di perairan Laut Jawa pada tahun 2003 silam berakhir dengan penemuan yang mengubah sejarah. Bukan tangkapan ikan biasa, melainkan sebuah ‘harta karun’ bernilai fantastis yang kini dikenal sebagai Cirebon Wreck. Kisah ini berawal dari seorang nelayan asal Cirebon, Jawa Barat, yang tak pernah membayangkan akan pulang dengan membawa kekayaan senilai ratusan miliar rupiah.

Pada suatu hari di tahun 2003, nelayan yang identitasnya dirahasiakan itu tengah mencari nafkah di perairan Laut Jawa. Ia berhenti sekitar 70 kilometer dari garis pantai, di kedalaman 50 meter, lokasi yang dikenal sebagai jalur ikan melimpah. Dengan keyakinan akan hasil tangkapan yang banyak, ia pun melepas jaringnya dan menunggu.

Mancing di Laut Jawa Nelayan Ini Dapat Rp720 Miliar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setelah beberapa waktu, ia memutuskan untuk mengangkat jaring. Namun, kali ini ada yang berbeda. Jaringnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Dengan sekuat tenaga, ia menarik jaring itu hingga masuk ke dalam perahu. Saat dibuka, dugaannya terbukti. Di antara ikan-ikan yang terjebak, terselip pula beberapa keramik kuno.

Berita penemuan keramik ini segera menyebar luas. Para ahli menduga kuat bahwa keramik tersebut bukanlah barang biasa, melainkan bagian dari sebuah harta karun bawah laut yang luar biasa. Pemerintah kemudian memberikan izin kepada sebuah perusahaan swasta untuk melakukan proyek pencarian dan ekskavasi di titik penemuan nelayan tersebut. Hasilnya sungguh mencengangkan.

Penelitian oleh Eka Asih dari Pusat Arkeologi Nasional dalam "Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon" (2016) mengungkapkan bahwa situs kapal karam di Cirebon menyimpan 314.171 keramik, meliputi porselen, piring, mangkuk, dan beragam jenis lainnya. Lebih lanjut, Michael S. Krzemnick dan timnya dalam "Radiocarbon Age Dating of 1,000-Year-Old Pearls from the Cirebon Shipwreck" (2017) menyebutkan adanya 12.000 mutiara bernilai tinggi, ribuan permata, dan emas. Situs berita Detik.com pada 3 April 2012 memperkirakan total nilai seluruh temuan ini mencapai Rp720 miliar.

Penemuan ini kemudian diakui sebagai salah satu penemuan harta karun arkeologi bawah laut terbesar di awal abad ke-21. Seluruh keramik yang ditemukan diyakini berasal dari Tiongkok, tepatnya dari era Dinasti Tang sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Pada masa itu, keramik Dinasti Tang adalah komoditas perdagangan yang sangat berharga, sering disebut sebagai ‘harta karun’ yang diperdagangkan ke berbagai belahan dunia, termasuk India, melalui rute laut yang melintasi Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Samudra Hindia.

Menariknya, berdasarkan riset Eka Asih, kapal yang tenggelam di perairan Cirebon ini bukan berasal dari Tiongkok atau Arab, melainkan dari wilayah Nusantara atau Indonesia sendiri. Hal ini didukung oleh rekonstruksi arkeolog yang membandingkan temuan keramik di Cirebon dengan yang ada di Sumatera Selatan, khususnya di wilayah Kesultanan Palembang. Pada periode yang sama, saat Dinasti Tang aktif berdagang keramik, Kerajaan Sriwijaya sedang mencapai puncak kejayaannya dengan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi, bahkan menjangkau Tiongkok.

Dari sini, para ahli menduga bahwa kapal tersebut mengangkut keramik Tiongkok yang telah diperdagangkan di Sumatera Selatan, menuju Pantai Utara Jawa bagian Timur. Sayangnya, dalam perjalanannya, kapal tersebut karam di perairan Cirebon, menenggelamkan ribuan harta karun berharga ke dasar laut. Semua itu terkubur di sana hingga akhirnya ditemukan secara tak sengaja oleh seorang nelayan pada tahun 2003, mengukir sejarah sebagai Cirebon Wreck.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post