Pujian Carrick Bikin United Pusing Nasib Sancho

El-Shinta

23 Januari 2026

3
Min Read

Ekonesia – Gelombang perubahan di Manchester United kembali memunculkan nama Jadon Sancho sebagai sorotan utama. Klub raksasa Premier League ini kini dihadapkan pada sebuah dilema besar, di mana pergantian juru taktik secara tak terduga membuka kembali peluang bagi sang pemain, namun di sisi lain juga memicu pertanyaan krusial terkait nilai investasi dan masa depannya.

Era singkat Ruben Amorim di kursi kepelatihan United sebelumnya memang telah mengorbankan banyak talenta menyerang. Filosofi taktiknya yang minim peran sayap membuat sejumlah nama besar seperti Jadon Sancho, Antony, Alejandro Garnacho, bahkan Marcus Rashford, harus rela menepi dari skuad utama Setan Merah.

Pujian Carrick Bikin United Pusing Nasib Sancho
Gambar Istimewa : gilabola.com

Namun, roda nasib berputar cepat. Pemecatan Amorim dan penunjukan Michael Carrick sebagai pelatih interim membawa angin segar. Carrick dengan cepat mengembalikan formasi klasik 4-2-3-1 yang sangat mengandalkan kreativitas para pemain sayap. Pendekatan ini langsung membuahkan hasil manis, terbukti dari kemenangan meyakinkan 2-0 atas rival sekota Manchester City, sebuah performa yang jauh lebih solid dibanding 14 bulan kepemimpinan Amorim.

Di antara nama-nama yang kembali mencuat, Jadon Sancho menjadi yang paling menarik perhatian. Pemain yang didatangkan dengan mahar fantastis Rp 1,45 triliun dari Borussia Dortmund pada 2021 ini sempat dicap sebagai investasi gagal di Old Trafford, hingga akhirnya dipinjamkan ke Aston Villa. Perjalanan di Villa Park pun tidak mulus, dengan 18 penampilan tanpa kontribusi gol maupun assist di awal masa pinjamannya.

Titik balik datang di saat yang krusial. Sancho berhasil mencetak gol penentu kemenangan bagi Aston Villa saat menundukkan Fenerbahce di Istanbul, sekaligus memastikan langkah timnya menuju babak 16 besar Liga Europa. Gol ini seolah menjadi sinyal bahwa kualitas sang winger belum sepenuhnya padam.

Hubungan antara Sancho dan Carrick bukanlah hal baru. Saat Carrick sempat menjabat sebagai pelatih interim di masa lalu, ia secara langsung menyaksikan potensi dan dampak yang bisa diberikan oleh pemain sayap tersebut. Bahkan, Sancho mencetak gol pada pertandingan debut Carrick sebagai caretaker di Liga Champions melawan Villarreal. Momen itu membuat Carrick tak ragu melontarkan pujian, menilai Sancho tampil efektif, baik saat menguasai bola maupun tanpa bola, serta menyoroti kontribusi defensifnya yang kerap luput dari perhatian publik.

Kini, Manchester United berada di persimpangan jalan. Dengan kontrak Sancho yang akan berakhir pada 2026, klub dikabarkan mempertimbangkan opsi untuk melepasnya demi meringankan beban gaji yang cukup besar. Namun, di sinilah letak dilemanya: menjualnya berarti menutup rapat-rapat pintu bagi potensi kebangkitan sang pemain di bawah arahan pelatih baru yang mungkin melihatnya sebagai aset berharga. Di sisi lain, mempertahankannya membawa risiko finansial yang tidak bisa diabaikan.

Fakta bahwa Carrick mampu memainkan taktik yang mengakomodasi Sancho, ditambah dengan pengalamannya melihat langsung kualitas sang winger, semakin memperumit keputusan. Haruskah United memberikan kesempatan kedua bagi Sancho untuk membuktikan diri, atau tetap pada rencana awal untuk melepasnya demi stabilitas keuangan klub?

Dari sudut pandang ekonosia.com, keputusan paling pragmatis bagi Manchester United adalah tetap pada rencana awal untuk melepas Jadon Sancho. Pertimbangan utamanya meliputi motivasi sang pemain yang diragukan, performanya di Aston Villa yang belum konsisten, beban gaji yang tinggi, serta rekam jejak karakternya yang dianggap problematik.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post