Bos ULTJ Borong Saham Rp1,8 Miliar

Agus Riyadi

6 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Jakarta – Sebuah langkah mengejutkan datang dari jajaran direksi dan komisaris PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ). Para petinggi perusahaan produsen susu terkemuka ini dilaporkan telah menggelontorkan dana signifikan, mencapai hampir Rp1,8 miliar, untuk mengakuisisi saham perseroan. Aksi korporasi yang menarik perhatian ini tercatat dilakukan pada penghujung tahun 2025, tepatnya tanggal 30 Desember.

Sabana Prawira Widjaja, Direktur utama Ultrajaya, menjadi salah satu aktor utama di balik transaksi jumbo ini. Ia secara resmi membeli sebanyak 700.000 lembar saham ULTJ. Dengan harga akuisisi Rp1.440 per saham, total nilai transaksi yang dilakukan Sabana mencapai Rp1 miliar. Setelah pembelian ini, kepemilikan saham Sabana melonjak dari 5.527.219.300 saham menjadi 5.527.919.300 saham. Meskipun jumlah saham bertambah, proporsi hak suaranya praktis stabil di angka 53,16%. "Motif di balik transaksi ini adalah murni untuk kepentingan bisnis," demikian keterangan yang terungkap dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa (6/1/2026).

Bos ULTJ Borong Saham Rp1,8 Miliar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tidak hanya Sabana, Suhendra Prawira Widjaja yang menjabat sebagai Komisaris Ultrajaya juga turut serta dalam aksi penambahan kepemilikan saham ini. Pada tanggal yang sama, Suhendra mengakuisisi 550.400 lembar saham biasa ULTJ. Dengan harga yang identik, yakni Rp1.440 per saham, nilai pembeliannya mencapai sekitar Rp792,57 juta. Penambahan ini mendongkrak kepemilikan saham Suhendra dari 126.051.060 saham menjadi 126.601.460 saham, yang secara proporsional meningkatkan porsi hak suaranya dari 1,21% menjadi 1,22%.

Di sisi lain, pergerakan saham ULTJ di pasar modal menunjukkan stabilitas. Pada penutupan perdagangan hari itu, harga saham ULTJ terpantau tidak beranjak dari level Rp1.435. Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat mencapai Rp16,52 triliun. Aksi borong saham oleh jajaran direksi dan komisaris ini seringkali diinterpretasikan sebagai sinyal positif dari internal perusahaan mengenai prospek bisnis di masa depan, memberikan kepercayaan tambahan bagi para investor.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post