Krisis Taktik MU Terkuak Begini Kata Lawan

El-Shinta

6 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Manchester United kini dihadapkan pada sebuah persoalan krusial yang tak hanya membuat mereka kehilangan juru taktik utama, Ruben Amorim, namun juga mewarisi warisan pahit: strategi permainan yang gampang terbaca lawan. Isu ini, yang telah menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat, pemain, bahkan internal klub, kini mencapai puncaknya setelah serangkaian hasil mengecewakan.

Sejak awal musim, alarm mengenai kekakuan taktik Setan Merah sebenarnya sudah berbunyi nyaring. Christopher Vivell, direktur rekrutmen klub, dikabarkan sempat melontarkan peringatan keras agar tim lebih adaptif dalam meracik strategi. Peringatan ini semakin relevan setelah laga kontra Fulham, di mana baik pelatih Marco Silva maupun gelandang Alex Iwobi secara terang-terangan mengakui bahwa mereka telah mengantongi formula untuk menjinakkan pola permainan Manchester United.

Krisis Taktik MU Terkuak Begini Kata Lawan
Gambar Istimewa : gilabola.com

Silva bahkan tanpa ragu membeberkan kunci sukses mereka: menempatkan tiga pemain di lini tengah, ditambah peran vital Iwobi untuk mengeksploitasi celah di belakang dua gelandang jangkar United. Iwobi menambahkan, persiapan matang telah dilakukan untuk menembus ruang kosong di balik duet Bruno Fernandes dan Casemiro, sebuah taktik yang terbukti ampuh di lapangan. Pengakuan blak-blakan dari kubu lawan ini tentu saja memicu kegelisahan di internal Old Trafford, sebab hal itu secara gamblang menyoroti kelemahan fundamental mereka: strategi yang terlalu transparan.

Persoalan taktik ini semakin diperparah dengan munculnya perdebatan mengenai kesesuaian duet Bruno dan Casemiro di lini tengah. Sebuah insiden kecil sempat mencuat ketika Patrick Dorgu menyukai unggahan yang mengkritisi kombinasi keduanya sebagai gelandang pivot. Banyak pihak berpendapat bahwa playmaker asal Portugal itu kurang efektif jika dipaksa bermain terlalu dalam, karena hal itu justru mematikan kreativitas dan ketajaman serangan United yang kini cenderung tumpul.

Legenda klub, Paul Scholes, turut angkat bicara, menyuarakan keprihatinannya terhadap perkembangan bakat muda Kobbie Mainoo. Menurut Scholes, Amorim telah merusak potensi Mainoo dengan formasi yang tidak mendukungnya. Mainoo, kata Scholes, idealnya bermain dalam skema tiga gelandang di lini tengah, sementara Amorim kerap hanya mengandalkan dua gelandang sentral, ditambah dua pemain nomor 10 di belakang penyerang. Scholes menambahkan, keseimbangan tim menjadi goyah akibat pendekatan taktik Amorim, terutama mengingat performa Casemiro yang tidak lagi seprima dulu, sementara Mainoo tak kunjung mendapat kepercayaan penuh.

Ketika lawan telah mampu membaca strategi permainan sejak peluit awal, setiap laga akan selalu terasa seperti perjuangan berat. Inilah realitas pahit yang kerap dihadapi Manchester United sepanjang musim ini. Sikap Amorim yang terkesan kaku dengan filosofi taktiknya kini harus dibayar mahal dengan berakhirnya masa jabatannya. Tantangan besar menanti penggantinya untuk merombak total pendekatan taktik demi mengembalikan kejayaan tim.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post