Ekonesia – Bayangkan Anda di ambang menjadi manusia pertama di Bumi dengan kekayaan fantastis, menembus angka satu triliun dolar AS. Namun, Anda justru meragukan keberadaan realitas itu sendiri. Inilah paradoks yang dihadapi Elon Musk, sosok yang digadang-gadang akan mencapai status triliuner pada tahun ini, di tengah keyakinannya bahwa kita semua mungkin hidup dalam sebuah simulasi komputer.
Baca juga: Potong Anggaran Infrastruktur? Indonesia Emas 2045 Terancam!
Selama bertahun-tahun, Musk secara terbuka membahas teori simulasi ini. Baginya, gagasan ini kian terasa nyata, terutama setelah rentetan peristiwa luar biasa yang ia alami sepanjang tahun 2025. Ia kerap menyamakan dunia dengan film fiksi ilmiah macam The Matrix, sebuah gim video yang sangat kompleks, atau bahkan serial di layanan streaming yang sedang ditonton oleh entitas cerdas tingkat lanjut.

Cara pandang unik ini menjadi kunci bagaimana Musk mampu "menjual" target-target ambisius yang ia canangkan untuk tahun 2026. Menurutnya, jika realitas adalah simulasi, maka alur cerita yang membosankan berisiko "dihentikan". Oleh karena itu, tujuan utama manusia adalah menjaga agar narasi tetap menarik. Inilah yang mendorongnya untuk terus berinovasi, mulai dari peningkatan produksi Cybercab, pengembangan massal komputer otak, hingga pencapaian reusabilitas penuh roket Starship untuk misi ke Bulan dan Mars.
Baca juga: KEK Singhasari: Magnet Investasi Baru di Jawa Timur!
Tahun 2025 memang menyuguhkan kisah penuh liku bagi Musk. Di ranah politik, ia sempat mencapai puncak pengaruh sebagai figur dekat Presiden Donald Trump, sebelum hubungan tersebut retak secara terbuka, lalu mengejutkan publik dengan upaya rekonsiliasi. Di sisi bisnis, valuasi Tesla mencetak rekor baru, meskipun penjualan kendaraan listriknya mengalami penurunan di Eropa. Antusiasme investor justru melonjak pasca-Musk menjauh dari Washington, puncaknya adalah persetujuan paket kompensasi historis yang berpotensi bernilai triliunan dolar jika target ambisius tercapai.
Tak hanya itu, SpaceX, perusahaan roket miliknya, dikabarkan membuka peluang untuk melantai di bursa pada 2025, disertai gagasan pembangunan pusat data AI di luar angkasa dan pabrik di Bulan. Sementara itu, platform media sosial X sempat terjerat polemik akibat unggahan antisemit dari chatbot AI Grok. Namun, insiden itu cepat mereda seiring Musk kembali menyita atensi lewat langkah-langkah barunya di sektor kecerdasan buatan melalui xAI. Semua dinamika ini, dengan pasang surutnya, justru selaras dengan teori Musk tentang simulasi yang mendorong alur cerita naik-turun.
Di tengah semua gejolak tersebut, kekayaan pribadi Musk meroket drastis. Menurut perhitungan Forbes, nilai hartanya lebih dari dua kali lipat, mencapai sekitar 726 miliar dolar AS atau setara 12.149 triliun rupiah pada akhir 2025. Lonjakan ini didorong oleh rencana penjualan saham sekunder SpaceX dengan valuasi fantastis 800 miliar dolar AS, naik signifikan dari sebelumnya 400 miliar dolar AS. Kekayaan Musk juga ditopang oleh putusan Mahkamah Agung Delaware yang memuluskan langkahnya menerima paket gaji Tesla 2018 senilai 139 miliar dolar AS.
Jika SpaceX benar-benar melantai di bursa dengan valuasi 1,5 triliun dolar AS seperti perkiraan Bloomberg, maka kekayaan Musk berpeluang menembus angka satu triliun dolar AS tahun ini. Angka yang terdengar hampir mustahil ini seolah mengukuhkan keyakinannya tentang hidup dalam simulasi. Musk sendiri telah membicarakan teori ini selama lebih dari satu dekade, menilai kemajuan teknologi, khususnya gim dan simulasi digital, membuat kemungkinan realitas buatan semakin besar.











Tinggalkan komentar