Minyak Dunia Meroket Awal 2026 Ini Sebabnya

Agus Riyadi

2 Januari 2026

2
Min Read

Ekonesia – Harga minyak global membuka lembaran tahun 2026 dengan lonjakan yang menarik perhatian pasar. Setelah melalui salah satu periode paling menantang dalam satu dekade terakhir, komoditas energi ini kini tercatat menguat. Berdasarkan data Refinitiv pada Jumat 2 Januari 2026 pukul 09.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent (LCOc1) mencapai level US$61.01 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) bertengger di US$57.56 per barel. Kenaikan tipis ini menandai fase konsolidasi setelah kinerja yang kurang memuaskan di tahun sebelumnya.

Pendorong utama di balik kenaikan harga minyak di awal tahun ini datang dari gejolak geopolitik yang kembali memanas. Laporan Reuters mengungkap eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina, di mana Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone yang menargetkan infrastruktur energi vital di Rusia. Insiden ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, menimbulkan risiko langsung terhadap kelancaran pasokan minyak dan produk energi dari kawasan Eurasia.

Minyak Dunia Meroket Awal 2026 Ini Sebabnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tak hanya di Eropa Timur, tekanan terhadap pasokan global juga datang dari Amerika Serikat yang kembali memperketat cengkeraman sanksi terhadap Venezuela. Presiden Donald Trump secara tegas menjatuhkan sanksi pada empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang terlibat dalam kegiatan ekspor minyak Venezuela. Langkah ini secara signifikan membatasi kemampuan perusahaan minyak nasional PDVSA untuk menyalurkan pasokan ke pasar internasional, sekaligus memperketat ketersediaan minyak mentah berat yang selama ini menjadi alternatif penting bagi kilang-kilang di AS dan Asia.

Kombinasi antara potensi gangguan pasokan dari Rusia dan pembatasan ekspor dari Venezuela menciptakan lapisan "premi risiko" baru yang menyelimuti harga minyak. Inilah alasan mengapa, meskipun permintaan global belum menunjukkan lonjakan signifikan, harga minyak Brent mampu bertahan di atas level US$60 per barel pada awal tahun 2026.

Namun, gambaran jangka menengah tetap diwarnai tantangan berat. Sepanjang tahun 2025, harga Brent dan WTI mencatat penurunan tajam, anjlok hampir 20 persen, menjadikannya kinerja tahunan terburuk sejak pandemi global di tahun 2020. Pasar saat itu dibebani oleh kelebihan pasokan global yang masif, didorong oleh produksi Amerika Serikat yang terus mencetak rekor. Di sisi lain, pertumbuhan permintaan energi melambat akibat dampak tarif perdagangan dan perlambatan ekonomi dunia.

Menurut data dari EIA, produksi minyak AS sempat menyentuh angka 13.87 juta barel per hari pada Oktober 2025, sebuah level tertinggi sepanjang sejarah. Bersamaan dengan itu, cadangan bahan bakar olahan seperti bensin dan distilat tetap melimpah karena aktivitas kilang yang kuat, meskipun stok minyak mentah sempat mengalami penurunan. Struktur pasar seperti ini membuat harga minyak sulit untuk keluar dari tekanan struktural akibat pasokan yang berlebih.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post