Siapa Otak di Balik Megahnya Taman Safari

Agus Riyadi

27 Desember 2025

3
Min Read

Ekonesia – Saat musim liburan tiba atau akhir pekan menyapa, satu nama destinasi wisata selalu ramai disebut: Taman Safari Indonesia di Bogor. Dikenal sebagai salah satu kebun binatang terkemuka, tempat ini sukses memadukan konsep pelestarian alam, edukasi, dan hiburan dalam satu harmoni. Namun, di balik gemerlap popularitasnya, tak banyak yang tahu siapa sebenarnya sosok visioner yang membidani lahirnya ikon pariwisata ini.

Berdiri kokoh sejak tahun 1981, Taman Safari Indonesia awalnya hanya menempati lahan seluas 55 hektare, bekas perkebunan Cisarua Selatan yang kala itu sudah tak lagi produktif. Kini, luasnya telah meluas menjadi 270 hektare, menjadi rumah bagi ribuan satwa. Di balik transformasi luar biasa ini, ada tiga nama bersaudara yang menjadi motor penggerak utama. Mereka adalah Jansen Manansang, Frans Manansang, dan Tony Sumampau, ketiganya berasal dari grup Oriental Sirkus Indonesia.

Siapa Otak di Balik Megahnya Taman Safari
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Demi mewujudkan visi mereka, para pendiri tak segan mengundang dua konsultan ahli dari Jerman dan Amerika Serikat untuk merancang konsep kebun binatang modern. Setelah melalui proses panjang, Taman Safari akhirnya membuka pintunya untuk umum pada April 1986. Empat tahun kemudian, tepatnya 16 Maret 1990, destinasi ini secara resmi diakui sebagai objek wisata nasional, menandai babak baru dalam sejarah pariwisata Indonesia.

Pada awal berdirinya, koleksi satwa Taman Safari berjumlah sekitar 400 ekor dari 100 spesies berbeda, termasuk badak, orang utan, dan harimau. Seiring waktu, jumlah ini terus bertambah signifikan, mencapai lebih dari 7.000 ekor dari 300 spesies eksotis dari berbagai benua. Tak hanya itu, pengalaman pengunjung semakin diperkaya dengan hadirnya 24 wahana permainan menarik. Setiap tahun, Taman Safari sukses menarik sekitar 1,4 juta pengunjung, di mana 15% di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.

Kesuksesan Taman Safari Bogor kemudian menginspirasi ekspansi grup ke berbagai wilayah lain. Saat ini, Taman Safari Indonesia Group telah memiliki beberapa cabang, antara lain Taman Safari Indonesia 2 di lereng Gunung Arjuno, Pasuruan, Jawa Timur; Taman Safari Indonesia 3 di Gianyar, Bali; Solo Safari; serta Batang Dolphins Center yang berlokasi di Pantai Sigandu, Batang, Jawa Tengah.

Dedikasi para pendiri, khususnya Jansen Manansang, dalam bidang konservasi mendapat apresiasi tinggi. Tahun lalu, Jansen Manansang dianugerahi gelar bergengsi "Bapak Konservasi Lingkungan Hidup Indonesia" oleh Messenger Of Revival (MORE). Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmennya yang tak tergoyahkan dalam upaya pelestarian satwa dan lingkungan.

Selama 38 tahun perjalanannya, Taman Safari telah membuktikan diri bukan sekadar tempat rekreasi biasa. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi pusat edukasi dan konservasi alam serta satwa yang berorientasi pada habitat asli mereka. Dengan konsep ini, Taman Safari berhasil menjadi destinasi wisata keluarga berwawasan lingkungan yang populer, memberikan pengalaman tak terlupakan sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian bumi.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post