Ekonesia Ekonomi – Badan Karantina Indonesia (Barantin) memberikan jaminan penuh terkait keamanan dan kesehatan sapi perah impor asal Australia. Kepastian ini menjadi angin segar bagi program peningkatan produksi susu dan daging nasional (P2SDN). Kepala Barantin, Sahat M Panggabean, menegaskan bahwa Australia memiliki standar industri peternakan yang tinggi, sehingga sapi yang diimpor sangat layak untuk mendukung program strategis tersebut.
Sebanyak 1.080 sapi perah bunting, hasil persilangan Holstein dan Jersey, baru saja tiba di Jawa Timur. Sapi-sapi unggul ini akan didistribusikan kepada 120 peternak lokal di berbagai kabupaten, termasuk Malang, Blitar, dan Pasuruan. Tujuannya jelas, meningkatkan produktivitas susu dan ketahanan sapi terhadap iklim tropis.

Sahat menjelaskan bahwa sapi-sapi yang tiba di Probolinggo melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga telah melalui serangkaian pemeriksaan ketat. "Sapi-sapi ini telah diberikan sertifikasi karantina pembebasan, menandakan bahwa mereka dalam kondisi sehat," ujarnya.
Protokol karantina hewan yang disepakati antara Barantin dan Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia (DAFF) menjadi landasan jaminan kesehatan ini. Analisis risiko, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium telah dilakukan secara menyeluruh.
Sriyanto, Deputi Bidang Karantina Hewan, menambahkan bahwa selama 14 hari masa karantina, sapi-sapi tersebut dipastikan bebas dari Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) seperti PMK, LSD, Brucellosis, BVD, EBL, dan Paratuberkulosis.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut baik kedatangan sapi perah impor ini. Ia menegaskan komitmennya untuk mendukung dan berkolaborasi dengan investor serta swasta dalam upaya pemenuhan kebutuhan susu dan daging di Jawa Timur. "Kedatangan sapi perah bunting ini sangat berarti bagi peningkatan populasi sapi perah dan produksi susu segar di Jawa Timur," pungkas Khofifah.
Tinggalkan komentar